Materi Bahasa Indonesia Tentang Frasa


Materi Bahasa Indonesia Tentang Frasa

Pengertian Frasa dan penjelasannya


Mata hari artinya sinar surya. Bila kata "mata dan hari" dipisah maknanya berbeda. Mata adalah indra penglihatan dan hari adalah edaran bumi pada sumbernya, memiliki waktu 24 jam. Dengan demikian kita mengenal hari Senin, Selasa, Rabu dan lain sebagainya. 

Anak - anak terkasih kita akan mempelajari hal tersebut, nama materinya adalah frasa. Mari kita mulai dengan pengertiannya.


Pengertian Frasa

Frasa adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata dengan kata yang bersifat nonpredikatif. Frasa hanya dapat mengisi satu fungsi sintaksis. 


Anak - anak saya tahu kalian tambah pusing membaca paragraf tersebut. Sederhannya begini frasa adalah kata yang memiliki makna tunggal (artinya maknanya hanya satu walau pun memiliki dua kata). Contoh mata hari artinya sinar surya, bila dipisah maknanya akan beda dan kedua kata itu (sifatnya tunggal), artinya hanya memiliki satu makna saja. Dia tidak ada predikat atau keterangan. Misalnya, frasa anak yang berpakaian warna merah bermotif polkadot itu hanya dapat memenuhi fungsi subjek. Tidak ada objek, apalagi keterangan.


Anak - anak frasa memiliki beberapa ciri, antara lain;


Lebih dari satu kata yang memenuhi salah satu dari fungsi sintaksis (subjek, predikat, objek, keterangan, atau pelengkap).

Dapat disisipi \rightarrow Perhatikan contoh berikut:

Rumah biru \rightarrow Di antara dua kata tersebut dapat disisipi, misalnya yang baru saja, menjadi rumah yang baru saja biru. Sementara itu, yang tidak bisa disisipi disebut sebagai kata majemuk (kompositum). 

Contoh

Rumah sakit \rightarrow Di antara kedua kata tersebut tidak dapat disisipi.

Frasa memiliki unsur inti dan keterangan. Pada frasa rumah biru, kata rumah menjadi inti dan kata biru menerangkan inti tersebut.

Frasa dapat ditentukan jenisnya berdasarkan kelas kata. Misalnya, frasa rumah biru berinti kata rumah yang berkelas kata nomina sehingga frasa tersebut masuk ke dalam jenis frasa nomina.

Jenis-Jenis Frasa

Frasa juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu:


1. Frasa Eksosentris

Frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan komponen-komponennya. Frasa ini mempunyai dua komponen, yaitu:


Bagian perangkai yang berupa preposisi atau partikel.

Bagian sumbu yang berupa kata atau kelompok kata.

Contoh frasa eksosentris.


Tiga orang sedang belajar di aula sekolah.

Tiga orang sedang belajar di.

Tiga orang sedang belajar aula.

Tiga orang sedang belajar sekolah.

Frasa di aula sekolah mempunyai tiga unsur di, aula, dan sekolah. Sebagai frasa preposisional, ketiga unsur tersebut tidak dapat sama-sama menggantikan. Berbeda halnya dengan frasa endosentris.


2. Frasa Endosentris


Frasa endosentris adalah frasa yang keseluruhannya mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan salah satu bagiannya.


Contoh dari frasa eksosentris


Dua orang siswa sedang berlatih menyanyi di aula sekolah.

Karena memiliki distribusi yang sama, tidak masalah jika salah satunya dihilangkan sebab bisa saling menggantikan.


Dua orang sedang berlatih menyanyi di aula sekolah.

Dua siswa sedang berlatih menyanyi di aula sekolah.

Pola frasa bahasa Indonesia secara tepat digambarkan oleh Alisyahbana (1949: 59). Beliau mengemukakan mengenai hukum DM. Maksud dari hukum DM adalah kata yang menerangkan/ menjelaskan selalu terletak di belakang kata yang diterangkan. Kemudian pada tahun 1972, muncul tokoh yakni Bertsch dan Vennemann. Mereka mengemukakan prinsip pengurutan wajar, maksudnya adalah urutan semua jenis modifikator dalam hubungan dengan induknya (kata yang dimodifikasikan) sama dengan urutan verba dan objek.


Cara Menentukan Pola Frasa

Penentuan pola frasa pada umumnya dijumpai dalam soal Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) pada bagian Pemahaman dan Pengetahuan Umum (PPU). Langkah-langkah dalam menentukan pola frasa, antara lain;


Tentukanlah terlebih dulu inti atau konsep diterangkan (D) dan pembatas atau keterangan atau konsep menerangkan (M) dari frasa tersebut. Karena merupakan pilihan, penulis akan menggunakan istilah inti dan keterangan. Misalnya, frasa kecerdasan buatan berinti pada kata kecerdasan. Hal ini disebabkan kata kecerdasan dapat membentuk jenis apapun, misalnya kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, ataupun kecerdasan spiritual sehingga kata buatan menjadi keterangan dari kecerdasan yang dimaksud.

Dari inti dan keterangan tersebut, tentukanlah kelas katanya. Kecerdasan berkelas kata nomina, begitu pun dengan kata buatan.

Lihatlah secara seksama, baik inti, maupun keterangan apakah berbentuk kata dasar ataukah kata berimbuhan.

Jika sampai nomor 3 belum juga ditemukan jawabannya, anak - anak harus melihat hubungan antara inti dan pembatas. Misalnya, frasa pintu belakang. Jadi, hubungan antara inti (pintu) dan belakang (keterangan) adalah letak atau posisi.

Jenis Frasa berdasarkan Kelas Kata pada Intinya

Jika dilihat dari kelas kata pada inti frasa, frasa dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, antara lain


Frasa Preposisional (Frasa Kata Depan)


Frasa preposisional adalah frasa yang diawali dengan kata depan yang kemudian diikuti oleh kata atau kelompok kata lain. Contohnya, di sepanjang jalan kenangan, kepada guru yang terhormat, bagi mantan yang tersakiti, dsb.


Frasa Nominal (Frasa Kata Benda)


Frasa nominal adalah frasa yang berinti pada kata berkelas kata nomina. Contohnya, burung biru, sehamparan alun-alun, ketinggian pesawat, dsb.


Frasa Verbal (Frasa Kata Kerja)


Frasa verbal adalah frasa yang berinti pada kata berkelas kata kerja. Contohnya, memperoleh hadiah, memakan buah-buahan, melompati pagar, dsb.


Frasa Adjektival (Frasa Kata Sifat)


Frasa adjektiva adalah frasa yang berinti pada kata berkelas kata sifat. Contohnya, sangat merah, tidak pernah bersih, selalu baik, dsb.


Frasa Adverbial (Frasa Kata Keterangan)


Frasa adverbia adalah frasa yang berinti pada kata berkelas kata keterangan. Contohnya, tidak pernah sekalipun, hanya sesekali, tidak akan, dsb.