Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memangnya saya Ingin Kena Covid?, Sebuah Refleksi

Memangnya saya Ingin Kena Covid?, Sebuah Refleksi
Gambar saat saya masuk tempat Karantina Covid Maumere
Tidak ada satu manusia pun yang ingin mendapatkan musibah, seperti covid 19. Namun sebagai makhluk sosial kita tidak bisa terhindar dari manusia yang lain. Walau pun menjaga jarak dengan manusia yang lain, namun relasi itu tetap ada karena setiap manusia membutuhkan manusia yang lain.


Lantas seseorang kena covid, seolah dunia mau kiamat. Dijauhi dan diusir dari lingkungannya. Sikap waspada dengan tetap berjaga jarak, itu sangat baik. Kami yang pernah mengalami penyakit ini berulang kali dihimbau oleh tim medis untuk menjaga jarak, tetap memakai masker, mencuci tangan dan lain sebagainya. 


Baca: Divonis Covid dan Dikarantina Saya Bersyukur Mengalamainya: Catatan Perjalanan Jakarta - Maumere


Setelah dinyatakan sembuh dan saya kembali ke Jakarta. Tentunya dengan surat - surat lengkap. Termasuk rapid tes antigen saat naik pesawat Maumere - Jakarta.


Sebagai guru saya kembali mengajar. Tugas piket ke sekolah saya jalankan. Respon teman - teman guru di Sekolah Kasih Karunia Jakarta sangatlah bersahabat. Ada cinta yang saya temui di sana. Lantas sebagai ketua lingkungan saya harus menjalankan tugas pelayanan saya di lingkungan santo Petrus Volker. Saat saya mengantarkan proposal ANP 2021 ke gereja, termasuk mengurus beberapa hal yang terkait. Responnya sangat luar biasa. 


"Maaf pak Martin kita di luar saja ya"  ini wajar, bisa saya pahami secara akal.


Barangkali di dalam panas, walau situasinya sore hari dan sedang gerimis pula. Namun bagi saya ini di batas wajar dan bisa dimaklumi secara akal.


Selanjutnya,


"Oh maaf pak Martin, silakan taruh di motor saja ya". 


Jujur mulai 'panas' walau gerimis melanda kota Jakarta sore itu. Selepas itu tanpa basa - basi lagi, gas!. Maksudnya motor yang saya gunakan saat itu. Berlalu tanpa basa - basi lagi. Selanjutnya wa masuk, "pak Martin mohon maaf ya pak, semoga bapak memahami kondisi ini"


Cukup sampai di sini saja ya karena gereja adalah saya. Namun penting untuk kita refleksikan bersama. Kalau boleh memilih kami pun tidak ingin kena Korona. Jika kami kena Korona apakah ini sepenuhnya salah kami?


Sobat pelayan umat yang mengalami hal ini. Jujur ini terlalu sakit tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita seorang diri. 

Jakarta, 29 Januari 2021

Martin Karakabu

Catatan penting!

Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan siapa pun. Saya hanya mencurahkan hati dari sebuah pengalaman perjumpaan dengan mereka yang disebut "pelayan umat".

Posting Komentar untuk "Memangnya saya Ingin Kena Covid?, Sebuah Refleksi"