Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kalau Baku Sayang Sedangkal Itu, Bagaimana Kasih Sayang Bisa Menyatu?

Kalau Baku Sayang Sedangkal Itu, Bagaimana Kasih Sayang Bisa Menyatu?
Martin Karakabu
Mr, Martin, "wah luar biasa sekali" kata dia di seberang sana. Jika bapak berkenan silakan gabung bersama kami. Pesan whatsApp saat itu.


Pesona dari LDBI nasional berdampak pada saya secara personal. Bangga sudah pasti, bersyukur menjadi kehausan. 


Berbekal final LDBI tingkat nasional saya melangkah. Dalam setiap langkah ada nada, "SMA Kanaan sekarang keren bangat". Itu pengakuan dan jujur saya bangga. Apalagi ditanya, "pembina debatnya siapa?". 


Berlagak sok bijak saya menjawab, "itu semua karena Tuhan", walau sebenarnya bangga dan sombong tidak bisa dibedakan lagi saat itu. 


Deretan ijazah bersama akta mengajar saya sodorkan dan dengan bangga saya melangkah. Bukan tanpa alasan apalagi hanya gaya. Berada di titik ini karena saya telah melewati masa penuh tantangan dan sedang menikmati buah karya.


Kebanggaan itu runtuh dan membuat saya nyaris terdampar dan tak berdaya, di saat ini.


  • Mr. Martin Kristen?
  • Mr. Martin dari Papua?

"Oh lulus dari Uncen, Papua ya"


Jawabannya maaf....?


Tidak menjadi masalah, saya seorang 'petarung' dan itu sudah biasa. Namun caramu membuat saya bertanya...


  • Apakah kita harus seagama baru dibilang sesama?
  • Apakah kita harus sedarah baru dibilang saudara?
  • Apakah kita harus seiman baru dibilang saling cinta?
  • Apakah kita harus se'ajaran baru mengerti perasaan?

Barangkali benar kata penyair muda asal Maluku, Eko Paceratu, "Kalau baku sayang sedangkal itu, bagaimana kasih sayang bisa menyatu"?


Apakah kita harus satu ras untuk menjadi manusia waras?. 


Biarlah ini jadi kenangan perjalanan, tetap menjaga nalar agar terus menjadi manusia waras.

 

Catatan Martin Karakabu tentang hidup, perjuangan dan cerita bahagia.

Posting Komentar untuk "Kalau Baku Sayang Sedangkal Itu, Bagaimana Kasih Sayang Bisa Menyatu?"