Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ayo Menulis oleh Dewi Linggasari Penulis Novel Sali

Apa? tentang menulis dan berbagi.

Menulis adalah proses berbagi pengalaman

Ayo Menulis oleh Dewi Linggasari Penulis Novel Sali
Ibu Dewi Linggsari/Penulis Novel Sali
*Kegiatan menulis pada hakekatnya adalah proses berbagi pengalaman dan pencarian jati diri ….” kata Ibu Dewi Linggsari, penulis Novel Sali. 


Simak refleksi beliau tentang menulis dan alasan mengapa kita harus menulis berikut ini.


Setiap individu memiliki pengalaman hidup berbeda antara yang satu dengan yang lain; sejarah, setting waktu, lingkungan sosial budaya menyebabkan pengalaman hidup seseorang selalu berbeda dengan yang lain. Tak seorang pun individu sama dan sejenis, demikian juga dalam hal pengalaman hidup. 


Jarak dan waktu memisahkan pula satu individu dengan individu yang lain, sehingga masing-masing individu dapat pula bertanya, apa yang terjadi pada peta kehidupan berbeda pada waktu yang sama atau berbeda? 


Rasa ingin tahu selalu memacu setiap individu bertindak mendapatkan informasi. Sementara individu dengan talenta khusus berkeinginan untuk berbagi.


Seorang pelukis berbagi pengalaman dengan menuang goresan warna  yang indah dan menakjubkan di atas kanvas, seorang musisi berbagi pengalaman dengan menciptakan  lagu, seorang arsitek akan berkunjung pada suatu wilayah, mempelajari model bangunan yang unik kemudian menuangkan imajinasi pada sebuah gambar rumah yang menarik serta mengesankan. 


Berbagi  pengalaman selalu menyebabkan seorang menjadi bagian dari komunitas, ia tidak seorang diri,  meski menetap pada sebuah tempat yang jauh, tak pernah bertatap muka atau berjabat tangan. 


Seorang penulis dengan talenta yang berbeda, memiliki pengalaman hidup yang berbeda dengan penulis yang lain. 


Secara global tulisan dapat dikategorikan menjadi dua bagian, fiksi dan non fiksi –sastra dan non sastra. 


Karya sastra meliputi novel, cerpen --cerita pendek, prosa dan puisi. 


Karya sastra adalah sinergi antara fakta dan fiksi yang dihadirkan dengan banyak pertimbangan, termasuk tokoh yang dihadirkan di dalamnya. 


Pesan yang harus disampaikan dalam karya sastra adalah moral, kebenaran sang tokoh, bahkan setting waktu dan tempat dapat disamarkan untuk menghindarakan ketersinggungan sosok tertentu yang dikenal publik secara luas. 


Sastra mengedepankan kebebasan berkarya untuk menggambarkan kondisi masyarakat pada masa karya termaksud diterbitkan.


Karya sastra pada prinsipnya serupa catatan harian sang penulis, baik pengalaman pribadi yang disamarkan, karena ada banyak hal yang tidak bisa disampaikan kepada masyarakat luas. Atau pengalaman orang lain yang demikian berkesan atau menohok, sehingga penulis merasa perlu berbagai beban dengan sekalian pembaca tentang pengalaman hidup yang berbeda - mungkin pula di luar persangkaan. 


  • NH. Dini serta Andrea Hirata menyampaikan seluruh pengalaman pribadi dalam bentuk novel berseri. 
  • Romo Mangun, Ahmad Tohari, Umar Kayam menyampaikan  pengalaman hidup dengan setting budaya Jawa pada masa pergolakan. 
  • John Grisham, menyampaikan pengalaman hidup sebagai pengacara dalam bentuk novel pula. 
  • Chairil Anwar, WS. Rendra, Emha Ainun Najib, Pringadi Abdi Surya menyampaikan pengalaman hidup dalam bentuk puisi. Sekar Ayu Utami dan Pringadi Abdi Surya menyampaikan pengalaman hidup dalam bentuk cerpen, adalah kelam kehidupan yang pernah disaksikan kemudian dibagikan kepada sekalian pembaca dalam bentuk karya sastra. 

Ayo Menulis oleh Dewi Linggasari Penulis Novel Sali
Sali Novel Etnografi Papua karya Dewi Linggsari

Cerpen adalah karya sastra sekitar lima halaman yang mengisahkan kepingan pengalaman hidup dan selesai pada  kalimat penghabisan. 


Di samping menghibur, selaku bagian dari karya sastra bermuatan moral, cerpen berfungsi membangun karakter, sehingga sikap pembaca dalam kehidupan sehari - hari dapat menjadi lebih baik. 


Sepanjang sejarah cerpen terbit dalam beragam media. 


Sebelum era millennium cerpen hanya terbit seminggu sekali pada koran harian setiap hari Sabtu, majalan yang terbit seminggu sekali, atau kumpulan cerpen dalam bentuk majalah atau buku. Harga relatif tinggi menyebabkan karya sastra, termasuk cerpen susah terjangkau masyarakat kelas bawah, kecuali dengan meminjam atau membaca di perpustakaan.


Kumpulan cerpen bermuatan roman yang terbit pada majalah remaja sekitar tahun 1980-an. Sangat menghibur kalangan remaja, dengan satu pertanyaan, benarkah relasi gender pada belia usia merupakan tujuan dari suatu generasi? 


Cerpen bermuatan pacar-pacaran –roman, ternyata perlu dievalusi, maka pada dekade selanjutnya muncul cepren dalam majalah Femina dengan muatan gender. 


Kisah seorang dokter wanita yang bertugas di pedalaman dan harus berhadapan dengan ahli pengobatan tradisionil, dan ia memenangkan perselisihan. 


Kisah-kisah di dalam cerpen yang bermuatan kesetaraan gender kembali bermunculan meramaikan dunia sastra, mengubah pandangan masyarakat secara perlahan, bahwa perempuan dan laki-laki adalah mitra yang setara. 


Sebuah cerpen menjadi lebih berbobot, karena bermuatan kehidupan sosial budaya dari sang tokoh yang menjadi cerita utama, cerpen menjadi menawan, karena adegan roman, dan semakin berbobot, karena sentuhan realitas, baik sosial maupun budaya.


“Ayo menulis cerpen ….”

Ibu Dewi (tengah)/sumber foto Face book ibu Dewi 
Alur cerita adalah tulang punggung utama dalam menuliskan sebuah cerita pendek yang berbobot, alur cerita yang bermuatan moral serta setting sosial budaya yang kuat akan menambah bobot cerita pendek termaksud. 


Pilihan kata yang tepat serta metafora yang indah, penggambaran keadaan alam akan menghanyutkan pembaca ke alam yang sangat jauh yang belum pernah dikunjungi. 


Seorang pembaca akan terobsesi mendatangi suatu tempat, karena penggambaran yang mengesankan pada sebuah cerita. Satu cerita seperti halnya grafik yang semula diam, menanjak sampai pada klimak persoalan untuk kemudian kembali menurun, sampai pada nol. 


Cerita pendek selalu selesai pada kalimat penghabisan.


Alur cerita akan menjadi lebih logis, bila hal itu benar-benar pernah terjadi, bukan mengada-ada dalam imajinasi tak berbatas dan tidak masuk akal. Maka pengalaman pribadi atau orang lain, atau kasus yang terjadi di sekitar kita layak dicermati. 


Seorang penulis cerita pendek adalah pengamat sosial budaya yang nyaris tak pernah memejamkan mata terhadap kejadian serta perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. 


Dalam salah satu kumpulan cerita pendek berjudul Resitel Kupu-Kupu, Pringadi Abdi Surya pernah menuangkan imajinasi tak berbatas, bahwa kupu-kupu secara fantastis bisa menyebabkan kematian, dengan kalimat serta pilihan kata yang mengesankan. Kemudian cerita pendek berakhir dengan satu pertanyaan, apa kau percaya kepadaku? (Surya, 2011: 26)


Sebuah pertanyaan menohok yang membawa pembaca kembali pada kalimat pertama serta pemikiran yang logis, benarkah kupu-kupu bisa mendatangkan maut? 


Seorang penulis harus mampu menggiring pembaca mencermati kata-demi kata, kalimat demi kalimat hingga pada sesi penghabisan yang menyebabkan pembaca berpikir kembali pada awal mula kata, memahami keseluruhan cerita serta menarik pesan moral di dalamnya. 


Di dalam satu rangkaian kalimat cerita pendek acapkali terkandung misteri, sehingga seorang pembaca yang kritis harus membaca dua-tiga kali untuk selalu terhubung dengan pesan yang disampaikan penulis.


Cerita tentang Papua amat terbatas pada berbagai media, sementara khalayak yang menetap di  luar pulau raksasa ini terlalu ingin tahu untuk memahami sehari-hari yang bergulir di tempat ini. 


Dari cerita anak-anak berjudul Genderang Perang dari Wamena, saya bahkan terobsesi menetap di tempat ini kemudian menerbitkan beberapa judul buku, baik sastra maupun non sastra. 


Alur cerita serta penggambaran suasana dengan kata-kata yang tepat akan menginspirasi pembaca menuju peta yang sangat jauh, yang belum sempat dikunjungi. 


Cerita berlatar kehidupan sosial budaya di wilayah Papua selalu menarik dituliskan, informasi dalam bentuk sastra dan non sastra selalu ditunggu pembaca, terlebih para kritisi serta pengamat sosial budaya.


Alur cerita yang bermuatan SARA serta mendeskriditkan tokoh tertentu selayaknya dihindari, karena hal itu akan memicu konflik, bahkan pidana. 


Beberapa alur cerita teramat samar, sehingga pembaca harus berfikir keras memahami alur termaksud, karena penulis perlu mengamankan diri dari tuntutan kasus pidana. Cerita pendek adalah kisah nyata yang disamarkan.


Adapun kosa kata yang menyempurnakan sebuah alur cerita selalu bersumber dari kesungguhan membaca. 


Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. 


Semakin seorang rajin membaca, semakin tak berbilang jumlah kosa kata yang dimiliki untuk menyusun suatu cerita. 


Membaca bukan sekedar membuka wawasan yang berpotensi secara langsung maupun tidak langsung membangun karakter, akan tetapi memperkaya kosa kata seorang penulis. Tanpa membaca sebagai hobi atau rutinitas sehari-hari, tak akan pernah lahir seorang penulis.


Dimana memajang tulisan?

Sebelum era millennium memajang atau menerbitkan tulisan pada media masa menjadi suatu hal yang teramat sulit. 


Rata-rata koran harian hanya menerbitkan satu cerita setiap Sabtu, setiap  hari ada puluhan judul masuk untuk diseleksi, maka terlalu banyak judul cerita terbelangkai, tak pernah tersentuh, karena kehilangan media. 


Majalah Anita atau Senang yang rutin menerbitkan cerita pendek serta cerita bersambung, tetap melakukan seleksi yang ketat. Adapun penerbit buku memiliki banyak pertimbangan untuk menerbitkan satu judul kumpulan cerita pendek, termasuk pertimbangan bisnis. Penulis kehilangan muara.


Setelah millennium berlangsung, internet berfrungsi, media sosial berkembang sedemikian pesat tanpa dapat dihentikan, maka sekalian penulis memiliki wahana untuk berekspresi. 


Komunitas penulis menampakkan diri tanpa batas ruang dan waktu pada  media sosial, sehingga masing-masing penulis dapat memperoleh pengakuan dari  pembaca atau penulis yang lain melalui komunitas yang aktif. 


Seorang penulis juga dapat membuat blog pribadi yang berisi aneka ragam bentuk tulisan serta foto termasuk karya sastra di dalamnya termuat pula cerita pendek. 


Pengakuan dari pembaca atau sesama penulis adalah motivasi yang sangat kuat untuk tetap menulis dan eksis di kalangan komunitas. 


Gramedia Writing Project membuka satu web bagi penulis untuk mengupload hasil karya, sastra dan non sastra dengan kemungkin yang sangat baik, karya termaksud akan diterbitkan. 


Sementara penerbit self publishing menyediakan jasa cetak serta penerbitan buku, biaya cetak ditanggung penulis kemudian penulis memasarkan dengan beragam cara, pada toko buku atau online. 


Lomba menulis cerpen yang diselenggarakan berbagai media adalah salah satu cara pula untuk berkespresi. 


Penulis selalu memiliki celah untuk mempublikasi hasil karya. 


Semakin banyak pembaca yang berminat akan publikasi tulisan itu, maka semakin kuat posisi seorang penulis. Menulis adalah memenuhi minat dan kemauan pembaca.  


Menulis --Menyembuhkan

Beragam fungsi serta manfaat muncul dari judul cerita pendek, selain menghibur, membangun karakter dari pesan moral yang disampaikan, mengukuhkan status sosial penulis bersangkutan. 


Maka menulis berarti menyembuhkan. 


Dalam perjalanan hidup yang panjang seorang akan mengalami banyak hambatan, rintangan serta ujian yang terlalu menyakitkan. Atau yang bersangkutan akan bersinggungan, atau menyaksikan kisah tragis yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya. 


Berkeluh kesah pada seorang sahabat amat baik untuk mengurangi beban hidup. 


Akan tetapi, menulis dalam bentuk cerita pendek dengan penyamaran tokoh, ruang dan waktu akan menjadi seni untuk menyembuhkan diri dari satu beban yang menekan.


Ada seorang pendamping pengungsi Vietnam di Pulau Galang pada tahun 1970-an. Ia bersinggungan terlalu jauh dengan seorang pengungsi yang menarik meski memiliki postur tubuh  yang terlalu kurus. 


Interaksi yang terlalu jauh menyebabkan sang gadis pengungsi mengandung, pada waktu yang sama masa tugas pendamping berakhir, ia harus meninggalkan Pulau Galang kembali kepada keluarganya, anak istrinya. 


Sang gadis putus asa kemudian mengakhiri hidup dengan cara tragis, gantung diri. Si pendamping merasa berdosa, bersalah, dan terpukul. Untuk menyembuhkan duka hati yang bersangkutan menulis satu judul cerpen untuk menyampaikan segala penyesalan, mengakui kesalahan. Kemudian ia merasa lebih tenang dengan tragedi ini. 


Beragam peristiwa menggilincir setiap hari tanpa dapat dihentikan, suatu kesalahan apabila seorang penulis tidak berminat kemudian berkeras menuliskan. 


Satu cerita pendek akan berubah menjadi sejarah ketika waktu berjalan seakan terbang menuju kurun berikutnya. 


Pada dekade berikut karakter judul cerita pendek akan berubah sesuai dengan setting kehidupan penulis yang sering merasa tertekan, bahkan terancam dengan situasi yang mengikatnya.  


Menulis memberikan ruang teramat luas untuk berekspresi mengutarakan pendapat dalam tata bahasa yang indah. 


Ketika mencari jati sebagai penulis, seorang memiliki dunia tanpa batas yang menautkan keberadaannya dengan pembaca serta pengamat, bahwa ia telah melakukan sesuatu yang dapat dikenang serta memberikan kontribusi moral.


“Ayo menulis ….”. 

Catatan refleksi Ibu Dewi Linggsari, penulis Novel Sali.

Sumber foto: Face book ibu Dewi Linggsari. 

Baca juga: Bisa karena terbiasa, cerita inspirasi bersama ibu Dewi Linggasari Penulis Novel Sali 

4 komentar untuk "Ayo Menulis oleh Dewi Linggasari Penulis Novel Sali"

  1. Thank you for share. Blog ya ramai ya.... Go on .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ibu Dewi, hehe blognya sepi komentar bu, tetapi pengunjung lumayan. Terima kasih sudah berbagi tulisan yang sangat bermanfaat bu. Sukses selalu untuk ibu dan keluarga di Asmat Papua.

      Hapus
  2. berbagi pengalaman melalui sebuah novel itu merupakan karya yang luar biasa, ga banyak orang bisa seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas Intan, saya setuju bahwa berbagi pengalaman melalui sebuah novel adalah hal yang unik dan berbeda. Terima kasih sudah hadir mas, salam sehat ^^^

      Hapus